In conversation with FX Harsono

FX Harsono is a leading figure within the Indonesian contemporary art scene. His research-based practice responds to emergent social and political contexts, and often investigates personal histories as a basis for revealing oppression and discrimination of minority communities, including Indonesia’s long-persecuted Chinese diaspora, known as Tionghoans, of which Harsono is descended.

Born in 1949, during the early phases of Indonesia’s independence, Harsono was a founding member of Gerakan Seni Rupa Baru (New Art Movement) and the Desember Hitam (Black December) movement. These marked the beginnings of Indonesia’s vibrant art scene in the 1970s, encouraging active political critique during a volatile and increasingly dangerous climate.

Over four decades, Harsono’s work has developed against the backdrop of the rise and fall of the Soeharto regime, through revolution and reformation. On the eve of Jakarta’s election, which have incited simmering racial and religious tensions in the world’s most populous Muslim country, Harsono’s practice resonates with the national search for plurality.

Aisha Johan caught up with the artist to talk about his ongoing project Pilgrimage to History, the role of artists within society and how contemporary Indonesian art has matured.

For the English translation click here.

Aisha Johan: Saya sangat mengagumi salah satu karya anda, Berziarah pada Sejarah, 2013. Saya merasa bahwa anda mengajukan untuk memberi suara kepada mereka yang telah kehilangan suaranya, beranjak dari kuburan massal ditujukan kepada masyarakat luas (from mass grave to mass audience). Bisa anda jelaskan lebih dalam lagi mengenai karya tersebut?

FX Harsono: Awalnya, saya memulai proyek seni tentang genosida dan kuburan massal yang saya ketahui berada di sekitar Blitar. Ayah saya waktu itu merupakan seorang “juru potret.”

Pada tahun 1951, Chung Hua Tsung Hui, sebuah organisasi untuk komunitas Tionghoa, mengumpulkan sejumlah anggota masyarakat untuk membentuk sebuah tim dengan tujuan mencari tempat dimana kaum Tionghoa dibunuh dan dikubur tanpa jejak ataupun tanda. Tim tersebut menggali sejumlah mayat dan memberikan mereka prosesi penguburan yang layak di sebuah area pemakaman.

Ayah saya, sebagai fotografer, adalah bagian dari tim tersebut dimana beliau khusus bertugas untuk mendokumentasikan proses penggalian. Di dalam foto-foto tersebut, ayah saya melampirkan beberapa informasi terkait yang memberikan tanggal dan lokasi dimana para korban dibunuh. Saya menelusuri sejarah genosida terhadap masyarakat Tionghoa dengan mengadakan penelitian di lokasi desa-desa dimana korban ditemukan.

Kemudian saya memperoleh informasi lebih lanjut dari teman-teman saya mengenai kasus pembunuhan yang terjadi di kota-kota lainnya. Stanley Adi Prasetyo memberi saya sebuah dokumen yang berjudul, Memorandum: Outlining act of violence and humanity perpetrated by Indonesia band on innocent Chinese before and after the Dutch Police Action was enforced on July 21, 1947. Dokumen inilah yang kemudian mendorong saya untuk mencari kuburan massal lainnya.

Sejauh ini saya hanya melakukan pencarian di beberapa kota di Jawa Timur saja. Saya menemukan sebuah kuburan massal di Blitar, dengan 191 korban; di Tulungagung, dengan 73 korban; di Kediri, 310 korban; Nganjuk, 784; Yogyakarta, 26; Muntilan, 17. Semuanya sekarang sudah dimakamkan kembali di kompleks pemakaman Tionghoa. Video performance dari karya Berziarah ke Sejarah (2013) menggambarkan kunjungan ziarah ke beberapa kuburan massal yang saya temukan.

Proyek seni ini masih terus berlanjut. Sampai saat ini, saya mendapatkan informasi bahwa ada lima kuburan massal di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saya berencana untuk mengunjunginya dan melakukan sebuah performance sebagai bentuk ziarah terhadap korban-korban tersebut. Disamping menelusuri keberadaan kuburan massal ini, saya juga mencoba untuk mencari narasumber yang memiliki pengalaman langsung dengan peristiwa tersebut, kemungkinan besar sebagai saksi mata.

AJ: Sebagai seorang Indonesia keturunan Tionghoa dan dibesarkan pada era yang begitu identik dengan sentimen anti-Tiongkok yang meluas, karya karya anda banyak mengangkat topik sosial politik yang beberapa tahun terakhir ini telah bergeser kepada topik identitas diri anda sendiri.

Dalam salah satu karya anda, anda turut mengangkat persoalan mengenai asimilasi budaya melalui sistem pendidikan yang diterapkan oleh misionaris Belanda, dan berdampak kepada kehidupan masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa di tempat anda dibesarkan.

Bagaimana kerumitan dan kemajemukan sejarah (tidak hanya sejarah anda sendiri, tapi juga sejarah nenek moyang, sejarah tanah Jawa dan sejarah Indonesia dibawah naungan Belanda) mempengaruhi karya karya anda?

FXH: Karya saya sejak tahun 2000 berangkat dari sejarah dan persoalan identitas orang Tionghoa di Indonesia. Berbicara soal sejarah, maka tentu tak lepas dari sejarah masa lalu dimana orang Tionghoa tak bisa dipisahkan dengan perkembangan sejarah dan kebudayaan Indonesia saat ini. Riset sangat menentukan ide-ide penciptaan karya saya.

Melihat kembali dan mengemukakan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Tionghoa di Indonesia bukan berarti ada kehendak pada diri saya untuk menegur, menjadikan korban untuk kedua kalinya, atau bahkan meromantisir itu semua. Sebaliknya, saya ingin menatap tajam persoalan tersebut dan belajar dari situ, supaya kita sebagai manusia tidak lupa dan mengulangi kesalahan masa lalu. Sebuah bangsa menjadi matang bukan hanya dikarenakan peristiwa besar dan kesuksesan semata, tapi juga bagaimana bangsa tersebut dengan berani mengakui kesalahan di masa lampau dan belajar dari kesalahan-kesalahan itu.

AJ: Apakah anda beranggapan bahwa seniman memiliki tanggung jawab akan situasi sosial dan politik dalam suatu sistem kemasyarakatan? Seberapa pentingkah pesan-pesan sosial dalam karya seni bagi anda? Menurut anda, apakah situasi seni kontemporer di Indonesia saat ini menggambarkan tanggung jawab sosial dalam menciptakan karya seni?

FX Harsono, Pilgrimage to History, 2013 (video stills). Courtesy of the artist

FX Harsono, Pilgrimage to History, 2013 (video stills). Courtesy of the artist

FXH: Seniman seharusnya memiliki tanggung jawab sosial dan karyanya juga mencerminkan tanggung jawab tersebut. Seberapa besar tanggung jawab sosial seorang seniman sangat menentukan kualitas karya seninya. Karya seni yang menunjukkan tanggung jawab sosial berarti menunjukkan bahwa karya itu punya konteks dengan masyarakatnya. Karya seni yang tidak punya konteks, maka karya itu tidak mempunyai akar, akibatnya karya itu tidak mempunyai nilai sosial maupun nilai budaya.

Saat ini tidak semua karya seniman bisa menunjukkan bahwa karya itu punya konteks yang cukup kuat dan cukup jelas. Seniman sebagai anggota masyarakat kosmopolitan yang mana hidup dalam kebudayaan yang sangat kompleks. Kurangnya kesadaran akan posisinya dalam masyarakat dan kurangnya pengetahuan tentang perkembangan kebudayaan, maka seniman akan sulit untuk menempatkan penciptaannya dalam perkembangan kebudayaan yang sangat kompleks dan berubah sangat cepat ini. Akibatnya seniman merasa bahwa tanggung jawab sosial menjadi tidak penting.

AJ: Pada tahun 1960an, diketahui bahwa pers Indonesia saat itu condong kepada konsep otoriter, sebagai corong pemerintah–sebuah alat revolusi–dalam usaha menanamkan paham manipol yang dikeluarkan pada tahun 1959. Penerbit yang menolak untuk menyokong kebijakan pemerintah tersebut dibreidel atau dicabut izin terbitnya, pada saat yang bersamaan, publikasi Tionghoa dilarang beredar. Hal ini menyebabkan terhambatnya jurnalisme di Indonesia dan terbatasnya ruang lingkup yang kritis terhadap pemerintah.

Soe Hok Gie pernah berkata “Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2×3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia”.

Melihat keadaan jurnalistik di Indonesia saat ini, dapat dirasakan bahwa pers pasca-Reformasi memiliki kebebasan yang lebih ketika dibandingkan dengan situasi pers Indonesia di era 1960an, terutama dalam hal memberikan suara kepada yang tertindas dan pemberitaan akan sejarah diskriminasi sosial.

Apakah anda setuju dengan pernyataan ini? Lalu, bagaimana dengan peranan seorang seniman sebagai aktifis sosial / seniman dengan tanggung jawab sosial yang telah berubah akan hal tersebut?

FXH: Kebebasan untuk menyatakan pendapat saat ini jauh lebih bebas dari era rezim Soeharto.

Dengan kebebasan ini, dan juga dengan perubahan kebudayaan, maka terjadi perubahan juga pada pengertian tentang aktifis sosial. Selain itu dengan semakin berfungsinya demokrasi, maka aktifis seperti masa orde baru yang berupa perlawanan terhadap kebijaksanaan politik pemerintah sudah berubah. Aktivisme bisa berupa pembangunan masyarakat untuk menciptakan kesadaran akan berbagai masalah yang dihadapi. Masalah yang dihadapi bukan lagi berhadapan dengan kekuasaan pemerintah, tetapi kekuasaan bisa diciptakan oleh kapitalisme, kekuasaan yang tumbuh dari kelompok-kelompok fundamentalis, atau kekuasaan yang bersifat primordialis.

Maka dari itu, isu-isu sosial yang masyarakat hadapi sekarang semakin beraneka ragam. Permasalahan-permasalahan ini bukan hanya sebuah kekuasaan yang solid, tetapi bisa saja berupa suatu keadaan dimana masyarakat urban menyebabkan individu menjadi teralienasi. Perubahan ini juga akan menyertai perubahan arti dan tindakan aktivisme.

AJ: Gerakan Senirupa Baru, yang anda dirikan bersama seniman-seniman Indonesia lainnya pada tahun 1975, terbentuk atas dorongan bahwa senirupa Indonesia pada saat itu bisa dibilang cenderung universal agar dapat menjadi bagian dari forum seni internasional. Anda sendiri merasa bahwa, jika kita ingin berbicara tentang Indonesia melalui karya seni, kita harus membahas tentang masyarakatnya, penderitaannya, dan kondisi manusianya.

Apakah anda melihat kecenderungan akan perubahan terhadap proses kreasi dan produksi karya seni Indonesia saat ini?

Menurut anda, apakah senirupa di Indonesia telah menggabungkan konsep seni budaya Barat dengan budaya tradisional, atau apakah seniman muda lebih condong menolak konsep seni budaya Barat dan merangkul tradisi, terutama dalam menghasilkan karya seni?

FXH: Kemajuan teknologi informasi, kekuatan ekonomi dunia dan perdagangan telah menciptakan globalisasi. Globalisasi juga menjadi batas antara antar negara, batas antara barat dan timur, antara satu etnis dengan yang lainnya menjadi tipis. Beragam kebudayaan membaur, terutama dikota besar, masuknya kebudayaan bangsa lain sulit untuk dicegah. Hal ini menjadikan upaya untuk mencari identitas nasional pun mulai dipertanyakan kompetensinya.

Pencarian identitas menjadi sangat sulit, apakah dengan menempatkan budaya tradisi dalam penciptaan karya sebagai suatu formula yang tepat? Karena tradisi itu apa dan tradisi yang mana? Apakah kita sebagai manusia modern memang paham tentang tradisi? Bagaimana tradisi ditempatkan pada karya kita? Banyak lagi pertanyaan yang menjadikan percampuran antara tradisi dan modern atau penolakan terhadap budaya barat sebagai sebuah model yang tepat untuk mencari identitas sebuah bangsa.

Saat ini banyak seniman yang mengangkat tradisi, dikarenakan ketidakpahaman mereka tentang tradisi, tentang bagaimana melihat tradisi, menjadikan karya mereka menjadi eksotis. Celakanya banyak negara maju juga tak paham tentang itu semua, sehingga kemudian karya-karya yang eksotis itu dianggap sebagai ciri dari karya seni dari dunia ke-3. Hal ini terlihat dari biennale-biennale besar di dunia, juga di pasar seni rupa.

[Saya rasa pertanyaan ini tidak tepat]. Seolah-olah kalau kita menolak tradisi berarti menerima Barat, atau kalau kita menolak Barat berarti menerima tradisi. Pertanyaan ini adalah pandang orang yang merasa hidup dalam kebudayaan barat yang merasa sebagai pusat. Seolah-olah bahwa di dunia ini hanya ada 2 pusat, yaitu barat sebagai representasi modernisme dan tradisi sebagai representasi dari dunia ketika yang belum modern, tradisional, primitif ini yang kemudian dianggap sebagai yang eksotis.

Sebagai seniman, Barat tidak lagi penting, karena negara-negara Asia saat ini sudah menghasilkan karya-karya seni yang tidak bisa lagi mencerminkan ciri-ciri Barat. Bahkan saya bertanya, Barat itu apa? Barat itu yang bagaimana? Apakah ada bentuk-bentuk yang merepresentasikan Barat? Pertanyaan ini juga sama dengan tradisi. Bagi seniman dan juga bagi saya sendiri yang penting adalah, paham akan siapa saya? Apa ideologi yang melandasi kehidupan dan penciptaan kesenian saya? Bagaimana saya sebagai individu memposisikan diri terhadap perkembangan kebudayaan, sosial dan politik saat ini. Bukan lagi mencari pusat, apakah itu barat atau tradisi, sebagai acuan berkarya.

Seni dengan konteks kebudayaan, kehidupan sosial dan politik bagi saya lebih penting daripada pusat-pusat tersebut. Maka memahami diri saya sebagai individu, memahami posisi saya dalam masyarakat itu buat saya lebih penting.

FX Harsono, Bone Cemetery Monument, 2011. Installation with multiplex wood box, electric light, paper and photograph

FX Harsono, Bone Cemetery Monument, 2011. Installation with multiplex wood box, electric light, paper and photograph

AJ: Pada saat dimana jumlah biennale dan triennale bermunculan dengan maraknya, bisa diamati banyaknya kurator dan institusi yang mencoba mengangkat ‘seniman muda’ dari berbagai pelosok terpencil di dunia. Bahwa telah terjadi pergeseran sudut pandang terhadap Asia, sebagai pusat perkembangan ekonomi dunia, dan juga sebagai titik letak pluralisme budaya–yang dapat dikelompokkan dengan sisi eksotik dari kolonialisme dan imperialisme budaya.

Anda sendiri telah menjadi salah satu seniman Indonesia yang begitu ternama di luar negeri. Apakah anda merasakan tuntutan tertentu dalam menghasilkan karya seni? Atau apakah anda merasa bahwa perhatian yang ditujukan kepada Asia dapat memberikan dampak positif, yang kemudian akan mewujudkan kesadaran terhadap kerumitan sejarah dan masyarakat di dalam wilayah Asia Tenggara pada khususnya?

FXH: Sudah saatnya Asia Tenggara diperhatikan dalam konteksnya sendiri, bukan dari pandangan barat. Asia Tenggara mempunyai sejarah dan kebudayaanya yang tak dipahami oleh banyak bangsa. Dunia perdagangan dan politik tak mampu mendekatkan bangsa-bangsa di dunia dalam pemikiran kebudayaan. Agar mereka tahu, maka perlu adanya riset yang baik untuk bisa memahami apa Asia Tenggara dengan latar belakang kebudayaan dan persoalan-persoalan mereka.

Saat ini dunia mulai melihat Asia Tenggara. Jepang, Korea, Inggris, Eropa mulai melakukan riset dan perhatian mereka. Tahun 2017, saya akan mengikuti pameran-pemeran tentang Asia Tenggara di Tokyo, Jepang; New York, Amerika Serikat; dan Brussels, Belgium, dimana sebelumnya mereka telah melakukan riset awal yang cukup intens. Semoga semua ini akan diikuti dengan kegiatan penting lainnya. Saya percaya bahwa Indonesia akan menjadi bagian penting dalam kegiatan kesenian ini.


FX Harsono studied painting at STSRI “ASRI”, Yogyakarta (Indonesia) from 1969-74 and at IKJ (Jakarta Art Institute) from 1987-91. Since 2005 he is lecturer at the Faculty of Art and Design, Pelita Harapan University, Tangerang (West Java). Harsono is also an active art critic, regularly writing about social questions and the development of contemporary art.

Recent solo exhibitions include What we have here perceived as truth/we shall some day encounter as beauty at the Jogja National Museum, Jogja, Indonesia (2013); Writing In The Rain at Tyler Rollins, New York, USA (2012); Testimonies at the Singapore Art Museum, Singapore (2010); and The Erased Time at the National Gallery of Indonesia, Jakarta (2009).
Recent group exhibitions include Rosa’s Wound at MOCA Taipei, Taiwan, (2017); Quota 2013 at the Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, Indonesia (2013); Outspoken at the Biasa Art Space, Bali, Indonesia (2013); and One Step Forward, Two Steps Back — Us and Institution, Us as Institution at the Times Museum, Guangzhou, China (2013).

He participated in the 20th Biennale of Sydney, Sydney, Australia (2016); at the Fourth Moscow Biennale of Contemporary Art in Moscow, Russia (2011); and in the exhibitions Edge of Elsewhere at 4A, Sydney, Australia (2011 and 2012); Recent Art From Indonesia: Contemporary Art-Turn at the Museum of Contemporary Art, Shanghai (2010); Beyond The Dutch at the Centraal Museum, Utrecht, The Netherlands (2009); and Highlight at the ISI, Jogya National Museum, Yogyakarta, Indonesia (2008).

Leave a comment